Mengenali kecemasan pada satu pasien di ruang praktik adalah satu keterampilan; berani bertanya soal risiko bunuh diri secara langsung adalah keterampilan lain yang berkembang lebih lambat — penjenjangan berikut memetakan keduanya.
Penjenjangan berikut merupakan usulan kerangka penahapan berbasis pola umum pendidikan spesialis empat tahun dan notasi penjenjangan capaian pembelajaran Kepkonsil HK.01.02/KKI/1308/2026 (mis. tingkat kemampuan 1–4A), diselaraskan dengan topik buku ini. Kedalaman dan urutan aktual tetap mengikuti kurikulum operasional program studi serta hasil evaluasi individual peserta didik — tabel ini bukan pengganti matriks kewenangan klinis resmi (lihat Dokumen P4).
| Tahun Pendidikan | Fokus Belajar Utama | Tingkat Kemandirian Klinis | Capaian yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Tahun I | Mengenali presentasi klinis cemas, depresi, dan tanda peringatan krisis psikososial. | Observasi dan dibimbing langsung. | Mampu melakukan penapisan dasar gangguan cemas-depresi dengan supervisi. |
| Tahun II | Melakukan konseling awal dan menilai risiko bunuh diri secara terstruktur. | Dibimbing tidak langsung. | Mampu menilai risiko bunuh diri dan menentukan kebutuhan rujukan segera. |
| Tahun III | Mengelola kasus penyalahgunaan napza dan krisis psikososial kompleks (KDRT, dukacita rumit). | Mandiri dengan supervisi berkala. | Mampu memimpin intervensi krisis awal dan koordinasi rujukan kesehatan jiwa berjenjang. |
| Tahun IV | Mengintegrasikan layanan kesehatan jiwa ke dalam sistem layanan primer wilayah kerja. | Mandiri penuh, peran koordinasi program. | Mampu mengevaluasi mutu integrasi layanan kesehatan jiwa primer. |